Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi perayaan Hari Raya Tumpek Krulut Umat Hindu Bali (Hindu Channel/VT)

Memaknai Hari Raya Tumpek Krulut

HinduChannel.tv (Jakarta) – Umat Hindu di Bali memperingati hari suci Tumpek Krulut, sebagai sebuah upacara yang penuh makna spiritual dan kultural sebagai bentuk penghormatan terhadap seni, khususnya seni suara dan musik. Tumpek Krulut jatuh setiap 210 hari sekali, pada Sabtu Kliwon Wuku Krulut menurut kalender Bali, dan memiliki arti penting dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam melalui ungkapan rasa cinta, kasih, dan keindahan.

Dilansir dari Sunarpost.com, Hari Raya Tumpek Krulut dilaksanakan pada setiap hari Saniscara Kliwon Wuku Krulut. Hari Raya ini merupakan hari raya tentang seni atau keindahan. Perayaan Hari Raya Tumpek Krulut biasanya diwujudkan dengan melakukan upacara keagamaam dengan menggunakan sarana upacara pada segala jenis tetabuhan seperti; gong, kebyar, granting, kendang serta alat tetabuhan lainnya yang biasa digunakan oleh para seniman.

Tumpek Krulut juga dikenal dengan nama Tumpek Lulut. Kata lulut dalam bahasa Bali berarti jalinan atau rangkaian/kasih. Pada reraianan ini, umat Hindu di Bali memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara. Sebagaimana dalam kehidupan adat dan budaya di Bali dikenal adanya gamelan sebagai sarana yang menampilkan tabuh atau suara-suara suci, Maka, Tumpek Krulut pun identik dengan sebutan odalan gong. Dari sini diambil makna agar perangkat suara untuk kelengkapan upacara tersebut memiliki taksu dan suara yang indah.

Makna dari Hari Raya Tumpek Krulut yakni dari arti arti lulut yang memiliki arti senang, gembira, suka cita atau bahagia. Artinya segala sensasi seni yang ditimbulkan pada tetabuhan dapat menciptakan suasana bahagia bagi para penikmat seni. Nilai Teo Estetis dalam Hari Raya Tumpek Krulut Hubungan antara seni dan teologi tidak terlepas  dalam ajaran agama Hindu, yang mana estetika selalu beriringan dengan hal yakni Satyam merupakan kebenaran, Siwam merupakan kesucian, dan Sundaram merupakan keindahan. Sesuatu yang indah tidak hanya sebatas sesuatu yang ditangkap oleh indra, akantetapi juga oleh kulitas moral dan kesucian (sakral).

Dari hal ini maka Hari Raya Tumpek Krulut memiliki nilai teoestetis yakni keindahan dalam aspek teologis. Keindahan selalu berkaitan dengan teologis atau Ketuhanan. Hari Raya Tumpek Krulut tidak saja memperingati hari tentang seni tapi juga memperingati hari tentang aspek Ketuhahan adalam bentuk seni, dalam alat-alat gamelan terkandung nyasa (simbol) yang didalemnya bersemayam para dewa yakni Dewa Iswara (Dang), Dewa Siwa (Ding), Dewa Brahma (Deng), Dewa Wisnu (Dung), dan Dewa Mahadewa (Dong).

Juga dikatakan bahwa pada alat gamelan juga bersemayam para dewi-dewi yakni: Dewi Mahadewi, Dewi Umadewi, Dewi Saraswati, Dewi Sri dan Dewi Gayatari. Dari hal tersebut maka alat-alat seni (tetabuhan) yang digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali tidak terlepas dari konsep Ketuhanan dengan manisfestasinya para dewa dewi.

Pada Keyakinan masyarakat Hindu, secara khusus memuja Aspek Ketuhanan sebagai dewa seni yang biasa disebut dengan Dewa Siwa Nataraja. Siwa Nataraja adalah manisfestasi Dewa Siwa sebagai dewa seni dengan penggambaran Dewa Siwa yang sedang menari. yang digambarkan dengan tarian Dewa Siwa sebagai manisfestasi seni. Hal ini memperlihatkan bahwa aspek teologis tidak terpisahkan dari keberadaan seni pada kehidupan masyarakat Bali. Begitupula dengan manisfestasi Dewi Saraswati sebagai dewi seni yang disimbolkan dengan membawa kecapi (alat musik).

Dewi Saraswati dipercaya sebagai dewi seni yang menggambarkan segala bentuk kehindahan. Hal yang lebih jelas terlihat dari segala bentuk simbol-simbol yang melekat pada penggambaran Dewi Saraswati seperti; perwujudan Dewi Saraswati yang cantik, sesuatu yang cantik identik dengan keindahan. Kesan yang cantik juga menarik untuk dipandang dan bisa menimbulkan rasa senang, begitupula dengan konsep keindahan bisa menimbulkan rasa senang lulut.

Dewi Saraswati disimbolkan dengan mengggunakan kecapi yang merupakan simbol dari kesenian, keindahan atau rasa seni merupakan bagian dari kehidupan manusia. Burung merak menyimbolkan sesuatu yang indah, hal ini terlihat dari tampilan bentuk dan warna dari burung merak. Bunga teraratai memiliki tampilan yang indah sebagai tempat duduk Dewi Saraswati. Dewi saraswati merupakan dewi seni dan dewi kebudayaan, hal ini terlihat dari konsep Dewa Brahma sebagai dewa pencipta begitupula dengan Dewi Saraswati sebagai saktinya Dewa Brahma sebagi pencipta.

Proses penciptaan merupakan bentuk dari kebudayaan yang berasal dari kriatifitas budhi, rasa, dan karsa, Dewi Saraswati sebagai dewi para musisi, Beliau sebagai pencipta ritma, nada, dan melodi. Beliau selalu diingat sebagai tujuh nada sa, re, ga, ma, pa, da, ni. Beliau juga dikenal sebagai Svaratmika atau jiwa musik. Beliau dikenal sebagai Saraswati karena memberikan pengetahuan dari tujuh nada musik. Para musisi biasanya membuat persembahan khusus kepada Saraswati. Berdasarkan uraian tersebut memperlihatkan adanya konsep teoestetis atau teologi seni dalam Hari Raya Tumpek Krulut, yang mana Hari Raya Tumpek Krulut merupakan hari pemujaan untuk seni yang ditandai dengan mengaturkan upacara pada alat-alat tetabuhan. (ev)

Bermanfaat, share yuk: